Iman yang Beraksi (1)

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26 TB).

Nah, sebagaimana tubuh tanpa roh adalah tubuh yang mati, begitu juga iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati. (BIS)

“For as the body without the spirit is dead, so faith without works is dead also.” (KJV)

“As the body without the spirit is dead, so faith without deeds is dead.”(NIV)

Iman itu sangat penting bagi kehidupan kita. Karena kita dibenarkan semata-mata karena pemberian Allah. Namun penerimaan anugerah itu hanya lewat iman kita.. “For by grace are ye saved through faith; and that not of yourselves: it is the gift of God:” (Eph 2:8 KJV). Bukan karena perbuatan-perbuatan kita maka kita diselamatkan seperti yang dipahami dan diupayakan dengan tekun oleh orang-orang yang mengaku beragama.

Orang yang beragama dituntut agar bekerja keras siang dan malam secara berkala dengan melakukan berbagai ritual; larangan-larangan; peraturan-peraturan agama; hukum-hukum alam dan berbagai tradisi agar supaya mereka dapat menyucikan diri dari segala kejahatan mereka dan mereka diterima di surga setelah kematian. Mereka mencoba mengumpul-kan poin besar dibandingkan kredit kekurangan mereka selama hidup mereka pada masa yang lalu. Mereka berpuasa; berpantang makan dan minum dalam waktu tertentu; bersemadi di gua-gua dan di bukit-bukit; memberikan korban persembahan binatang-binatang agar mereka dapat ditebus dari kejahatan tertentu; mereka berbuat awal; sedekah dan menolong orang miskin dan berbagai kehidupan saleh agar satu waktu dalam takhta pengadilan akhir perbuatan baik mereka ditimbang lebih baik dari pelanggaran yang patut mendapat ganjaran setimpal.  Beberapa agama dan aliran kepercayaan, termasuk golongan Kristen tertentu bahkan mendukung usaha mendoakan arwah agar dapat diterima di sisi Tuhan atau dapat melewati masa penghukuman di api pencucian dan pindah ke firdaus.

Sesungguhnya setiap orang harus memperhatikan kehidupan dan pilihan dia selama hidupnya di dunia ini karena kehidupan di dunia ini ada batasnya. Sesudah itu dia dan semua orang lain yang pernah hidup akan menghadapi pengadilan tahta surgawi.   Jangan seorangpun tertipu untuk mendapat kesempatan kedua setelah kematian. Dan jangan tertipu bahwa untuk keselamatan kekal cukup menjadi orang Kristen KTP. Tanpa iman yang hidup dan yang sejati kita tidak akan memperoleh keselamatan kekal.

Orang Kristen jelas memiliki pengajaran dasar bahwa kita diselamatkan karena anugerah Allah lewat kepercayaan kepada Yesus Kristus yang mati dan dikuburkan dan dibangkitkan pada hari ketiga. Itu adalah berita baik (Injil) kepada segala makhluk. (1 Kor 15:3-5). Berikut ayat-ayat penting tentang keselamatan karena Anugerah Allah dan diterima oleh kita lewat iman:

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Roma 5:8. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Roma 6:23. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.Roma 10:9. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Yohanes 3:16. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Efesus 2:8-9. Allah … yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.1 Petrus 1:3

Sayangnya masih banyak orang Kristen yang terjebak ke dalam prinsip “Kristen KTP” . Memperoleh keselamatan yang penting lahir sebagai orang Kristen atau beragama Kristen saja. Itu adalah iman yang mati ! Kalau sekedar percaya kepada Tuhan yang Esa, maka iblis pun percaya bahkan gemetar. Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu  dan mereka gemetar.  (Yak 2:19 TB

Kalian percaya bahwa Allah hanya satu, bukan? Nah, roh-roh jahat pun percaya dan mereka gemetar ketakutan! (BIS)

Ulasan mengenai iman yang sejati dan iman yang mati , saya mengambil kutipan dari tulisan, “gotquestions.org”  tentang iman tanpa perbuatan adalah mati:

Mengapa iman tanpa perbuatan disebut iman yang mati?

Pertanyaan: Mengapa iman tanpa perbuatan disebut iman yang mati?

Jawaban: Yakobus berkata, “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian juga iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26). Iman tanpa perbuatan baik disebut mati karena kurangnya perbuatan baik itu mengungkapkan kehidupan yang tidak diubahkan, serta hati yang mati secara rohani. Ada berbagai ayat yang menjelaskan bahwa iman sejati yang menyelamatkan akan menghasilkan kehidupan yang berubah, bahwa iman terbukti oleh perbuatan kita. Cara hidup kita mengungkapkan kepercayaan kita dan apakah iman yang kita akui benar-benar iman yang hidup.

Yakobus 2:14-16 terkadang diceraikan dari konteksnya demi menciptakan sistem kesalehan beragama yang didasari perbuatan baik, padahal berlawanan dengan pengajaran lainnya di dalam Alkitab. Yakobus bukan mengajar bahwa perbuatan baik dapat membenarkan kita di hadapan Allah, melainkan bahwa iman sejati akan terbukti oleh perbuatan baik. Perbuatan baik bukanlah penyebab keselamatan; perbuatan baik adalah bukti keselamatan. Iman sejati di dalam Kristus selalu menghasilkan perbuatan baik. Orang yang mengklaim dirinya Kristen tetapi hidup dalam ketidaktaatan pada Kristus yang disengaja, imannya palsu dan ia tidak selamat. Paulus mengulangi hal serupa dalam 1 Korintus 6:9-10. Yakobus membandingkan dua jenis iman yang berbeda – iman sejati yang menyelamatkan dan iman palsu yang mati.

Banyak orang mengaku sebagai Kristen, namun kehidupan dan prioritas mereka menunjukkan kenyataan yang sesungguhnya. Yesus mengutarakannya demikian: “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:16-23).

Perhatikan kesamaan antara pesan Yakobus dengan pesan Yesus. Ketaatan kepada Allah adalah bukti dari iman yang menyelamatkan. Yakobus menggunakan contoh Abraham dan Rahab sebagai teladan dimana ketaatan selalu menyertai keselamatan. Hanya sekedar mengatakan kita percaya, tidak menyelamatkan kita, begitu pula dengan sebatas hadir beribadah. Yang menyelamatkan kita adalah pembaruan hati kita oleh Roh Kudus, dan pembaruan tersebut akan tercermin di dalam kehidupan beriman yang taat kepada Allah.

Kesalahpahaman terkait hubungan di antara iman dan perbuatan datangnya dari penyalah-tafsiran ajaran Alkitab mengenai keselamatan. Pada umumnya ada dua kesalahan yang muncul dalam pengertian iman dan perbuatan. Kesalahan yang pertama ialah bahwa, selama seseorang pernah mengucapkan doa atau pernah berkata, “Saya percaya Yesus,” maka ia selamat tanpa pengecualian apapun. Ilustrasinya adalah jika seorang anak kecil pernah memenuhi panggilan ke altar untuk menerima Yesus dan dianggap selamat, walaupun ia tidak sedikitpun menunjukkan keinginan untuk berjalan dengan Allah sejak itu dan sedang hidup dalam keberdosaan yang disengaja. Ajaran ini dikenal dengan ungkapan “pembaruan mengikuti keputusan,” dan sangat berbahaya. Idenya ialah bahwa pengakuan iman menyelamatkan seseorang, walaupun ia hidup bagaikan iblis setelahnya, dan memasuki kategori “Kristen karnal.” Ajaran ini menyepelekan gaya hidup yang bejat: seseorang dapat meneruskan hidupnya sebagai pezinah yang tidak bertobat, pembohong, atau pencuri, namun ia selamat; karena ia hanya “karnal.” Namun, sebagaimana kita jumpai dalam Yakobus 2, pengakuan iman yang kosong – pengakuan yang tidak menghasilkan hidup yang taat kepada Kristus – adalah iman yang mati, yang tidak dapat menyelamatkan.

Kesalahan kedua terkait iman dan perbuatan adalah upaya untuk menjadikan perbuatan sebagai hal yang membenarkan kita di hadapan Allah. Upaya mendapatkan keselamatan dengan mencampurkan iman dan perbuatan sangat berlawanan dengan Alkitab. Roma 4:5 menyatakan, “Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.” Yakobus 2:26 menyatakan, “Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Tidak ada konflik antara kedua bagian ayat tersebut. Kita dibenarkan oleh kasih karunia melalui iman, dan akibat alami dari iman di hati ialah perbuatan yang dapat diamati. Perbuatan yang mengikuti keselamatan tidak membenarkan kita di hadapan Allah; perbuatan itu hanya mengalir dari hati yang diperbarui sama seperti air mengalir dari mata air.

Keselamatan adalah tindakan berdaulat Allah dimana seseorang berdosa mengalami “permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” yang dicurahkan di atasnya (Titus 3:5), sehingga ia lahir kembali (Yohanes 3:3). Ketika hal ini terjadi, Allah memberi orang berdosa yang telah diampuni sebuah hati baru dan menaruh roh yang baru di dalamnya (Yehezkiel 36:26). Allah mencabut hatinya yang telah dikeraskan oleh dosa dan mengisinya dengan Roh Kudus. Roh ini menyebabkan orang yang selamat jalan dalam ketaatan kepada Firman Allah (Yehezkiel 36:26-27).

Iman tanpa perbuatan disebut mati karena yang terungkap ialah fakta bahwa hatinya belum diubahkan oleh Allah. Ketika kita diperbarui oleh Roh Kudus, kehidupan kita akan menyaksikan kehidupan baru itu. Perbuatan kita akan dikenal oleh ketaatannya kepada Allah. Iman yang tidak terlihat dapat disaksikan secara nyata oleh kehadiran buah-buah Roh yang menghiasi kehidupan kita (Galatia 5:22). Orang Kristen adalah milik Kristus, Sang Gembala yang Baik. Sebagai domba-Nya kita mendengar suara-Nya dan mengikuti Dia (Yohanes 10:26-30).

Iman tanpa perbuatan disebut mati karena iman sejati menghasilkan ciptaan baru, bukan pengulangan pola perilaku yang berdosa. Sebagaimana dituliskan oleh Paulus di dalam 2 Korintus 5:17, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Iman tanpa perbuatan disebut mati karena datangnya dari hati yang belum diperbarui oleh Allah. Pengakuan iman yang hampa tidak mampu merubah kehidupan. Mereka yang mengklaim iman tetapi tidak memiliki Roh Kudus akan mendengar Kristus sendiri berkata pada mereka, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:23).

RENUNGAN PRIBADI

Setelah saudara membaca tulisan di atas silahkan renungan baik-baik dan jawab pertanyaan berikut dengan jujur.

  1. Apakah sudah menjadi orang Kristen sejati?  Jika saudara menjawab ya, kapan saudara menjadi Kristen?
  2. Apakah saudara sudah yakin saudara sudah memiliki iman yang sejati sehingga saudara yakin saudara diselamatkan? Jika saudara menjawab ya, berikan alasan saudara sangat yakin?
  3. Jika hari ini saudara meninggal, apakah saudara yakin akan ke surga dan menjalani kehidupan kekal bersama Bapa Surgawi? Jika saudara menjawab ya, berikan alasan saudara sangat yakin!
  4. Jika saudara tidak  menjawab setiap pertanyaan dengan ya. Maukah saudara dibimbing lebih lanjut? Silahkan hubungi pembimbing rohani saudara atau kirim email ke davyhermanus@gmail.com untuk pertanyaan lanjutan saudara