Kali ini kita akan mempelajari tentang satu peran penting dalam menyelenggarakan mukjizat bagi orang percaya yaitu iman yang sempurna yang dapat memindahkan gunung. Sebenarnya ada dua macam iman dalam kehidupan kekristenan . Iman kepada Allah dan Iman dari Allah. Mari kita lihat perbedaannya :

  1. Iman Keselamatan (Iman kepada Allah)

Iman sangat penting dalam kehidupan manusia, bahkan bahkan sangat vital karena bukan saja menyangkut hidup dan mati seseorang tapi kehidupan sesudah kematian, apakah kita akan mengalami kehidupan selama-lamanya bersama Bapa di Surga atau bersama iblis di neraka. Pilihan itu ada pada kita selama kita hidup di dunia ini. Tidak ada kesempatan kedua seperti mendoakan orang mati, atau pindah dari neraka ke surge setelah lewat masa penghukuman.

Perjanjian Lama berdasarkan ketaatan pada Hukum Taurat , mereka yang taat peraturannya akan selamat. Perjanjian Baru  berdasarkan Anugerah Allah atas karya penebusan Kristus penerimaan Anugerah itu berdasarkan Iman manusia. Istilah lebih tepat adalah iman kepada Allah untuk keselamatan kekal. Yoh 3:16, Ef:2-810, Roma 10:9-10 

  1. Iman hidup berkuasa selama di dunia (Iman dari Allah)

 Selain iman keselamatan, Bapa di surga ingin agar murid-muridNya, anak-anakNya memiliki iman yang besar dan yang sempurna. Ia ingin anak-anak berkuasa selayaknya mereka adalah pangeran-pangeran dan puteri-puteri Raja segala raja.  Dengan iman kita masuk kepada anugerah dan dengan iman yang besar setiap hari kita akan hidup dalam anugerah demi anugerah.

Sewaktu Yesus hidup di dunia ini Ia menjadi coach, menjadi teladan, menjadikan dirinya suatu model untuk murid-muridNya bertindak setelah Dia kembali ke surge. Selama Dia hidup sebagai manusia Ia memiliki iman yang besar dalam melayani. Ia menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang besar selain mengajar dan memuridkan yaitu mengadakan pelayanan pembebasan dari kuasa kegelapan dan menyembuhkan orang sakit untuk meneguhkan berita Injil Kerajaan Allah yang Ia mau sampaikan.

Mengajar Iman yang besar untuk murid-muridNya miliki adalah tantangan pemuridan bagi Dia.

 Apakah ada Iman yang memindahkan gunung?

 I Kor 13 :2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

1Cor 13:2  and if I have prophecy, and know all the secrets, and all the knowledge, and if I have all the faith, so as to remove mountains, and have not love, I am nothing;

Memiliki kasih sangat penting tapi bukan berarti mengabaikan karunia. Keseimbangan yang benar adalah dua-dua sama berat. Radikal dalam kasih dan radikal dalam iman. Iman yang memindahkan gunung adalah iman yang sempurna dalam terjemahan Indonesia dan sepertinya semua iman kita sudah miliki dalam terjemahan Inggris. Dua-duanya bagus.

 Ciri khas gunung: BESAR, SELALU ADA TIAP PAGI, DAPAT MENGHALANGI PANDANGAN, DAPAT MENGGANGGU PERJALANAN. Kita dapat aplikasikan untuk semua hal tapi konteks di sini adalah menyembuhkan orang sakit  dengan Otoritas yang kita sudah miliki dan membebaskan orang yang terikat oleh roh jahat yang tidak kunjung sembuh dengan perintah yang tanpa bimbang, percaya apa yang kita katakan akan terjadi.

 Iman yang Memindahkan Gunung seorang Perwira bukan Yahudi

Luk 7:2 Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.  (3)  Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.

(6)  Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku;

(7)  …Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.

Perlu dicatat bahwa perwira ini tidak meminta Yesus agar berdoa bagi hambanya yang sedang sekarat. Ia hanya meminta Yesus “menyampaikan satu kata.”

Menyampaikan kata apa? (Perintah dari Yesus untuk menyembuhkan !)Mari kita memperhatikan apa yang ada dalam pikiran dari perwira ini, dan pemahaman yang tidak umum macam apa yang ia miliki?

Luk 7:8  Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit.

Pria ini seorang perwira militer, ia memiliki wewenang atas prajurit-prajurit yang berada di bawah garis komandonya. Kita tahu bahwa militer beroperasi dengan garis komando.

Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: PERGI!, maka IA PERGI, dan kepada seorang lagi: DATANG!, maka IA DATANG, ataupun kepada hambaku: KERJAKAN ini!, maka IA MENGERJAKANNYA.”

Apakah perwira ini memiliki keraguan sedikitpun bahwa prajurit-prajuri yang berada dalam otoritasnya akan mentaati perintahnya? Ia tidak memiliki keraguan apapun bahwa prajurit-prajuritnya akan tunduk padanya. Mengapa? Karena ia memahami dengan benar prinsip otoritas. Siapa saja yang berada di bawah otoritasnya pasti  tanpa ragu harus tunduk padanya dan mentaati perintah-perintahnya. Sekarang lihatlah reaksi Yesus yang tak biasa terhadap kata-kata perwira ini.

 Luk 7:9 Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia

 Kata-kata apa yang disampaikan oleh perwira ini yang mengherankan Yesus?

Aku berkata  ini, “PERGI,’ DAN IA PERGI; dan aku katakan  , ‘Datang,’ DAN IA DATANG.  Aku  berkatan kepada hambaku, ‘Lakukan ini, DAN IA LAKUKAN.”

 Mengapa pemahaman  otoritas ini membuat Yesus terheran-heran?

Lukas 7:9b, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!”

Yesus dalam hal ini menyamakan pemahaman otoritas dari pria ini dengan iman yang sangat besar yang tidak Ia jumpai di seluruh Israel termasuk di antara murid-murid-Nya. Jenis iman besar macam apa yang Yesus tidak temukan di seluruh Israel? Jika akan meelihat sebentar lagi bahwa ini adalah semacam “ iman yang memindahkan gunung”.

Tentu saja ia percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan hambanya; ia memiliki iman kepada Yesus bahwa untuk hambaNya dapat disembuhkan oleh Yesus. Perkara ini sangat jelas. Namun orang-orang lain seperti wanita yang sakit pendarahan di Markus 5 juga memiliki iman yang besar kepada Yesus untuk dapat disembuhkan. Apa yang sungguh luar biasa dari iman perwira itu yang bahkan mencengangkan Yesus?

Terdapat satu penambahan dimensi yang nyata kepada iman dari perwira tersebut tentang keberdaan alami dari otoritas: ia tahu persis bagaimana  Yesus mampu menyembuhkan hambanya. Yesus secara sederhana saja “ menyampaikan satu kata” —  perihal satu perintah kepada orang sakit  atau kepada hambanya yang terpisah jauh dari rumah — dan penyakit harus taat dan pergi karena berada di bawah otoritasnya. Perwira mengerti bahwa otoritas tidak berkurang dengan adanya terpisah jarak. Sebagai contoh, seorang pemilik perusahaan dapat memerintahkan kepada pekerja-pekerjanya dari jarak jauh dengan menggunakan telepon, dan mereka akan mentaati apa yang dikatakaan untuk mereka lakukan. Perwira itu tahu bahwa penyakit-penyakit berada di bawah otoritas Tuhan Yesus.

Seperti itu juga perwira  tidak ragu sedikitpun bahwa prajurit-prajurit yang berada di bawah otoritasnya akan taat pada perintahnya, ia mengetahui bahwa Yesus mampu memerintahkan kepada orang sakit dari jarak jauh tanpa keraguan  bahwa ia akan mentaatinya. Dan ketika kita “ berbicara kepada gunung” yang berada di bawah otoritas kita dengan tanpa keraguan, hal itu akan terjadi bagi kita – sebagaimana kita akan belajar dari Markus 11:23. Mereka yang benar-benar memahami otoritas tidak akan ragu bahwa mereka yang berada di bawah otoritas kita akan mentaati perintah-perintanya. Yesus menyamakan pemahaman yang tidak biasa ini tentang otoritas dengan iamn yang besar. Inilah yang kita sebut “ iman tanpa ragu”. Ini berdasarkn pemahaman tentang otoritas.

Dan apa yang terjadi ketika “ Yesus berkata sepata kata” dari jarak jauh dengan otoritas – tanpa ragu? Hamba itu disembuhkan secara ajaib!

Luk 7:10 ITB  Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.

Pada jarak tertentu dari rumah perwira iru , Yesus hanya berkata “satu patah kata” – dengan suatu perintah seperti “ jadilah sembuh” – dan hal itu terjadi. Hamba itu disembuhkan.

 Bagaimana perkara ini diterapkan kepada murid-murid?

Dengan cara yang sama,, murid-murid Yesus memiliki otoritas atas penyakit dan iblis-bilis, khususnya dalam memberitakan Injil dan meneguhkan kebenarannya kepada orang yang terhilang. Oleh karena itu kita seharus tidak memiliki keraguan bahwa penyakit-penyak akan taat pada perkataan perintah kita dan orang sakit disembuhkan khusunya dalam kegiatan pemberitaan Injil. Inilah iman yang memindahkan gunung atau iman sebesar biji sesawi. Yesus menguatkan kembali dengan memberikan janjiNya bahwa mereka yang percaya akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang yang Dia lakukan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Ia sesungguhnya berasal dari Bapa ( Yoh 14:11-12)

Joh 14:12-14  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa

Memiliki iman yang memindahkan gunung berarti ketika kita berbicara kepada gunung dengan suatu perintah agar gunung itu pindah ke dalam laut, kita tidak ada keragu-raguan bahwa hal itu akan terjadi, Jelasnya kita dapat memiliki ketidak bimbangan ketika kita tahu bahwa kita sudah diberikan otoritas untuk memindahkan funung dan kita mengerti sifat alami dari otoritas. Mereka yang benar-benar mengerti tentang otoritas akan memiliki ketidak bimbangan bahwa semua hal yang berada di bawah otoritas kita akan taat pada perintah-perintah kita.

Ketika kita memberitakan Injil kepada orang yang terhilang, penyakit-penyakit dan iblis-iblis berada di bawah otoritas kita. Oleh karena itu ketika kita menggunakan perintah kepada mereka dengan pengertian otoritas yang kita sudah miliki atas mereka maka, hal itu akan terjadi.

Sekali lagi, jika kamu mengerti otoritas, kamu dapat memiliki iman yang memindahkan gunung. Sebagai orang yang ditugaskan dan yang memiliki otoritas, kita memiliki ketidakbimbangan dalam hati bahwa apa saja yang berada di bawah otoritas kita akan tunduk pada kita. Sebagai orang yang diberi tugas, kamu percaya bahwa apa yang kamu katakana akan terjadi dan dan hal itu akan nyata. Inilah iman yang memindahkan gunung.

Mrk 11:23  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.

Oleh karena itu ketika kita membagikan Injil , asal kamu tidak bimbang dalam hatimu dan percaya apa yang kamu peritahkan kepada sakit penyakit dan iblis-iblis, apa yang kamu katakana akan terjadi. Inilah iman yang memindahkan gunung atau iman yang tidak bimbang. Dan hal itu akan terjadi bagimu.

Sekarang kita mengerti kenapa kita gagal pada masa lalu,

Sekarang kita yang memiliki latar belakang karismatik dapat mengerti mengapa kita melayani kesembuhan dengan model lama. Dalam tempat terbuka dengan banyak orang menonton kita, kita ragai apakah Yesus nyata beserta dengan kita makanya kita mulai berbahasa roh. Kita berseru kepada Yesus degan harapan Dia akan menolong kita dengan satu cara. Kita membayangkan apa yang akan dipikirkan orang-orang jika tidak terjadi apapun. Dengan kata lain, kita penuh dengan KEBIMBANGAN bahwa kita sesungguhnya dapat menyembuhkan oran gsakit. Itulah sebabnya ketika kita melayai orang sakit kita sering menyelipkan hal-hal berikut:

 Berdoa kepada Allah – Kita bedoa sebab kita tidak berpikir kita telah memiliki otoritas untuk menyembuhkan orang sakit – atau sendainya kita berkata kita memiliki otoritas kita meragukan apakah itu akan sukses bekerja.

 “Haleluyah, terima kasih Yesus” – Oleh karena kita ragu bahwa kita dapat menyembuhkan orang sakit, kita lebih dahulu memuji dan berterima kasih kepada TUhan dengan harapan perkataan pujian kita menyenangkan Dia dan menolong kita untuk menyembuhkan orang sakit. Ini seperti suatu “sogokan “ agar Tuhan menolon gkita. Sebenarnya praktek semacam ini adalah keragu-raguan dalam hati yang menyebabkan kita dapat gagal.

Berbahasa indah – Orang karismatik sering melakukan ini untuk “mengutamakan” kegiatan menyembuhkan orang sakit. “ ketika kita bimbang, berbahasa orhlah.”  Kita mengupayakan berbahasa lidah aga r membangun man kita yang paling kudus sesuai dengan Yudas 1:20 sebelum bertempur dengan musuh.  Sebenarnya ketika kita berbahasa lidah saat kita sedang menyembuhkan  orang sakit menggunakan otoritas, kita mengungkapkan iman kita yang lemah perlu dikuatkan. Berbahasa lidah pada waktu tu dapat mengungkapan keraguan kita kepada musuh. Dan mereka kan menolak taat kepada kita, sebagaimana terjadi kepada murid-murid saat mereka berusaha menyembuhkan orang sakit yang sakit ayan. ( Penggunaan karunia kesembuhan yang berlawanan dengan penggunaan otoritas mungkin lain kasusnya).

“Bapa, di dalam nama Yesus, kami usri semua sakit penyak dan memerintahkan kesembuhan” – Menggunakan nama Bapa dengan cara seperti ini ketika kita memerintahkan pada penyakit tidak alkitabiah. Namun ketika kita mengalami keragu-raguan dalam menyembuhkan orang sakit, kita mulai puny aide yang kita piker bagus untuk melibatka Bapa supaya bapa memperhatikan dan memberikan pertolongan kepada kita. Kita melikhat bawah praktik ini dapat juga mengekspresikan kebimbangan — yang pada dasarnya  memberikan kegagalan pada kita.

Pelayanan kita untuk menyembuhkan orang sakit sering disertai dengan “drama” yang tidak perlu termasuk, menggoyangkan tangan, mendorong orang jatuh dan banyak manifestasi yang tidak Alkitabiah sebab kita ragu kesembuhan tidak terjadi. (Paling tidak kita mempertunjukkan hal baik untuk menarik perhatian penonton daripada melihat orang itu disembuhkan. Ketika kita sungguh-sungguh mengerti sifat alami dari otoritas , kita tidak bimbang sedikitpun bahwa penyakit-penyakit dan iblis-iblis akan tunduk pada kita. Kita tidak bimbang apa yang kita katakana akan terjadi dan orang-orang akan bersaksi bahwa mereka sembuh dengan nama Yesus dan Tuhan Yesus akan dipermuliakan.

Dalam Matius 17 murid-murid gagal menyembuhkan orang sakit sebab mereka memiliki kebimbangan mereka dapat menghancurkan kuasa iblis yang tak berbelas kasihan yang sering membuat anak itu tak berdaya sering jatuh ke dalam api dan air. Mereka tiba-tiba lupa bahwa Yesus telah memberikan kepad mereka otoritas atas SEMUA iblis-iblis.

Luk 9:1 Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga (Dunamis) dan kuasa (Tenaga) kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit..

Sama seperti Polisi di utus untuk mengatur lalu lintas dia memakai seragam dan pengendara harus taat sewaktu dia menghentikan mereka. Itulah Otoritas.

Tenaga adalah senjata untuk menekan orang jika mereka tidak tunduk pada perintah. Seorang Raja memiliki otoritas untuk memerintah pada seluruh kerajaaannya, jika dia ada yang tidak taat dia menggunakan tentara Kerajaan yang akan memakai senjata untuk menangkap. Seorang Jendral dapat prajurit untuk pergi dengan otoritas berperang dan menghancurkan musuh, mereka diperlengkapi dengan senjata perang yang mematikan.

Murid-murid di utus untuk memberitakan Kerajaan Allah kepada segala bangsa dan mereka diperlengkapi dengan kuasa dan Otoritas dan Roh Kudus yang membuat mereka sanggup melakukan mukjisat dan kesembuan serta menginjak ular dan kalajengking.

 “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali lewat doa dan puasa”

Apa fungsi dari doa? Jika kita mau berdoa  atau berbahasa roh kepada TUhan, kita seharusnya melakukan ini sebaik-baiknya jauh sebelum kita berhadapan melawan  penyakit dan musuh dengan otoritas dan tenaga. Kita seharusnya berdoa atau berbahasa roh untuk membangun iman kita yang kudus dengan doa pribadi kita  untuk mempersiapkan diri menyerang musuh dengan serangan kuat sebelum kita masuk ring atau masuk ke medan pertempuran.

Doa dan puasa fungsinya adalah persiapan untuk penyerangan kepada musuh dengan memakai perintah yang berotoritas, waktu doa tidak menghasilkan kesembuhan-kesembuhan yang ajaib. Doa dan aksi agamawi lainnya kepada Bapa harus dijaga terpisah dan bebeda dengan penerapan otoritas dan tenaga kepada musuh. Kegiatan sebelumnya arahnya ke atas ke arah Bapa di Surga. Kegiatan selanjutnya arahnya ke bawah kepada musuh yang berada di bawah kaki kita.  Janganlah kita mencoba naik turun pada waktu yang bersamaan. Jika kita pertama-tama mau menyenangkan Bapa dalam doa lakukanlah itu. Namun setelah itu kita tutup waktu saat teduh kita dengan Tuhan “di dalam nama Yesus , Amin, buka mata kita, jamah orang sakit dengan tangan kita dan serang musuh ita dengan keyakinan,gunakan senjata api  dasyat yang mengagetkan musuh  dan membuat dia cepat lari.

Karunia kesembuhan , berbeda, mungkin dapat melibatkan doa dan penyembahan kepada Tuhan.

Pengertian lanjutan dari iman yang memindahkan gunung

Mrk 11:12-14 Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar.  (13)  Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.  (14)  Maka kata-Nya kepada pohon itu: “Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama-lamanya!” Dan murid-murid-Nyapun mendengarnya.,,,, Mrk 11:20 Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya.

Bagaimana Yesus melakukan mukjizat ini? Ia tidak menaikkan permohonan doa kepada Bapa, tapi Ia memakai suatu perintah langsung kepada pohon itu.  Bapa telah memberikan kepadaNya otoritas kepada pohon. Yesus menghendaki pohon itu mati, jadi dia perintahkan pohon itu mati dan phon itu taat. Tepanya bagaimana Yesus memerintahkan phon itu, yang menjadikan suatu mukjizat?  Lanjut..

Mrk 11:21 Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu ia berkata kepada Yesus: “Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.”

Petrus penasaran  dengan mukjizat itu. Pada ayat berikut itu Yesus menerangkan tepatnya bagaimana Ia menggunakan otoritasnya untuk mengutuk pohon itu secara langsung.

Mrk 11:22  Yesus menjawab mereka: “Percayalah kepada Allah!

Clark :

Have faith in God – Εχετε πιϚιν θεου is a mere Hebraism: have the faith of God, i.e. have strong faith, or the strongest faith, for thus the Hebrews expressed the superlative degree; so the mountains of God mean exceeding great mountains – the hail of God, exceeding great hail, etc.

Penerjemahan secara literal (kata tertulis) dari kata bahasa Yunani untuk jawaban Yesus sesungguhnya “Milikilah iman seperti iman Allah. Dalam kebanyakan versi alkitab literal kata Have the faith of God..

And Jesus answering saith to them, `Have faith of God; (YLT)

And answering, Jesus said to them, Have faith of God. (LITV)

And answering Jesus said to them, Have faith of God. (MKJV)

Dan Yesus menjawab mereka serta berkata, Milikilah Iman seperti iman Allah !

Nampak jelas penterjemah NIV tidak mampu menangkap arti misterius dari kata “Iman dari Allah.” Dan itulah mungkin mereka lebih condong memilih terjemahan tradisi “Percayalah kepada Allah” yang menurut aturan tata bahasa Yunani bisa  juga diterima. Namun mari kita tetap seta kepada arti literal dari penerjemaahan “ Milikilah Iman seperti Iman Allah.” Apa magna dibalik itu?

Tentu saja kita memahami bahwa kita harus punya “iman kepada Allah untuk diselamatkan. Namun demikian apa arti dari “iman dari Allah” Bagaimana mungkin Allah sendiri memiliki iman? Ini kelihatan seperti tidak masuk diakal? Jika kita terus memperhatikan  apa yang Yesus sedang ajarkan kepada Petrus tentang bagaimana caranya mengutuk pohon Aram aka kita akan mengerti maksudnya.

Mrk 11:22  Yesus menjawab mereka: “Percayalah kepada Allah!  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.

Iman dari Allah serupa dengan iman yang memindahkan gunng. Untuk dapat mengeri ini, mari kita anggap Allah ingin memindahkan gunung ke dalam laut. Persis seperti bagaiaman Ia berbicara untuk  bumi dan segala isinya jadi, Allah akan berbicara kepada gunung dan gunung itu akan pindah ke dalam laut. Ketika Ia memberikan perinta, tentu saja Ia tidak bombing sedikitpun dalam hatiNya melainkan ia tahus persis apa yang Ia katakana akan terjadi. Allah tidak bimbang sedikitpun karena Ia memiliki otoritas.

Itulah persis tentang  “iman dari Allah.” Ini  berfungi sama dengan iman yang memindahkan gunung.

Yesus menjalankan mukjizat pada pohon are dengan mempraktikan otoritasnya dan memerintahkan apakah itu iman dari Allah ataupun iman yang memindahkan gunung – dengan tidak ada keraguan sedikitupun  tentang otoritasnya pada pohon. Dengan cara yang sama, Yesus mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan orang sakit, semua ini berada di bawah otoritasnya. Ia akan memberikan perintah kepada mereka dengan ima dari Allah.

“ Iman kepada Allah” berdasarkan menungguh kepada Allah agar Dia yang bertindak untuk memindahkan gunung. Ini adalah jenis iman yang berlandaskan pada hubungan kita dengan Allah dan berhubungan dengan keselamtan kita. Tetap sekarng kita juga melihat bahwa Alkitab mengajar “iman dari Allah.” Iman ini berasal pada kita sendiri yang mengambil tindakan dengan berkata-kat akepada gunung tanpa bimbang sedikitpun. Tidak heran bahwa Gereja masih belum terbuka dengan kebenaran ini.  Jika kita mengerti iman dari Allah, maka kita dapat menyembuhkan orang sakit dengan penuh kuasa dan mengusir roo-roh hata sebagai bukti yang terlihat nyata kepada oran gyang terhidlang bahwa Yesus sesungguhnya adalah Mesias yang dijanjikan – satu-satunya jalan menuju Bapa. Dan kita akan melonjak secara eksponesial dalam buah-buah daripada sebelumnya dalam menjangkau kelompok  orang yang susah diinjili di seluruh dunia bagai Injil Tuhan Yesus pada akhir zaman ini.

Ketika kita sudah diperintahkan untuk beraksi dan telah diberikan otoritas untuk melakukan, kita tidak akan lagi duduk menunggu Allah bertindak, namun kita akan bertindak. Bagian dari aksi ini kan meliputi perkataan dengan iman yang memindahkan gunung. Khususnya kita akan memprakteikkan otoritas kita atas penyakit dan roh-roh jahat dengan perintah yang tegas tanpa bimbang.