Matius 17:14 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah, 15 katanya: “Tuhan, kasihanilah anakku. la sakit ayan dan sangat menderita. la sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. 16 Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.”

17 Maka kata Yesus: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” 18 Dengan keras Yesus menegor dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itupun sembuh seketika itu juga.

19 Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?”

Ada empat alasan yang kita berikan untuk menjelaskan mengapa orang sakit tidak sembuh waktu kita melayani mereka:

  1. Bukan kehendak Tuhan; 2.bukan waktu Tuhan; 3. orang sakit itu punya dosa; 4. orang sakit itu kurang beriman.

Tapi apa alasan yang Yesus beri dalam situasi seperti di atas?

20 la berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. 21 (Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.)”

Yesus tidak menimpakan ‘kesalahan’ karena tidak terjadinya kesembuhan itu kepada Tuhan atau anak yang sakit itu. Sebaliknya, Dia menyalahkan murid-murid karena iman mereka yang kurang. Apa sebenarnya ‘iman yang memindahkan gunung’ yang tidak mereka miliki itu?

IMAN YANG MEMINDAHKAN GUNUNG

Markus 11:14 Maka kata-Nya kepada pohon itu: “Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama-Iamanya!” Dan murid-murid-Nyapun mendengamya. …20 Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya Iewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya.

21 Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu ia berkata kepada Yesus: “Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.” 22 Yesus menjawab mereka: “Percayalah kepada Allah! (have faith in God) (lit. ‘milikilah imannya Allah (have faith of God)23 Aku berkata kepadamu:

Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. 24 Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.

‘Imannya Allah’ setara dengan iman yang memindahkan gunung.

Inilah iman yang tidak dimiliki para murid ketika mencoba mengusir roh jahat yang menyebabkan ayan tersebut. Mereka bimbang, mereka tidak yakin kalau roh jahat itu harus patuh pada mereka. Kita harus memiliki iman yang memindahkan gunung (imannya Allah) jika kita ingin menyembuhkan yang sakit dan mengusir setan demi perluasan Kerajaan Tuhan, agar jiwa-jiwa menerima lnjil. ‘

Imannya Allah’ berdasarkan Firman Tuhan yang memberitahu kita bahwa Kristus sudah memberikan kita kuasa demi lnjil. lni bukanlah ‘iman dalam iman kita’. Dengan keyakinan dan keberanian penuh kita menggunakan kuasa atas roh-roh jahat dan penyakit yang mengikat manusia karena Alkitab berkata kita sudah diberikan kuasa tersebut.

“Jadi, kuasa itu sendiri tidaklah cukup. Jika seorang percaya ragu saat dia mengusir penyakit dan roh-roh jahat, mereka tidak akan pergi sekalipun orang percaya itu punya kuasa. Perintah itu harus diberikan tanpa bimbang, dengan imannya Allah, dengan penuh keyakinan.”

Apakah Allah punya ‘iman yang memindahkan gunung’? Jika Dia memerintahkan gunung untuk berpindah, akankah Dia ragu kalau gunung itu akan taat padaNya? Ketika Tuhan berkata, “Jadilah terang,” apakah Dia bimbang jika terang akan menaati perintahNya? Ketika Yesus bicara pada pohon ara, apakah Dia menunjukkan keraguan kalau pohon ara itu akan taat dan mati? Tuhan tidak ragu ketika Dia memberikan perintah, karena Dia tahu kuasaNya sebagai Tuhan; semuanya harus taat padaNya.

Inilah ‘imannya Allah’. Yesus tahu Dia telah diberikan kuasa, dan karenanya ketika Dia memberi perintah, Dia tidak ragu kalau perintah itu harus ditaati. Kita juga memiliki kuasa yang sama atas penyakit dan setan, yang diberikan Yesus pada kita, dan kita tidak boleh bimbang apakah mereka akan taat atau tidak ketika kita memerintahkan mereka untuk pergi. Inilah ‘imannya Allah’ yang melepaskan kuasa dan tenaga untuk mengerjakan mukjizat demi lnjil.