Davy Hermanus sehari-hari adalah pekerja biasa sebagai praktisi di digital sosial media dan supervisor beberapa perusahaan di bidang IT serta pengajar di Perguruan Tinggi.

Perjalanan kerohaniannya di mulai dari kelas 3 SMP sewaktu dia bertobat dan lahir baru dalam suatu kegiatan masal penginjilan rumah ke rumah dengan gerakan yang dinamakan “Sudah Kutemukan” dan “Andapun dapat menemukannya” oleh pelayanan Campus Crusade for Christ. Sejak saat itu panggilan dalam bidang misi dan penginjilan membuat dia terus terlibat dan belajar dalam berbagai kegiatan penginjilan “one to one” dan pelayanan gereja khususnya dalam memuridkan anak muda dan mahasiswa. Dia aktif untuk menginjili orang-orang di rumah, di sekolah dan di jalan-jalan menggunakan “4 Hukum Rohani” dan sejak kelas 1 SMA mulai menjadi guru sekolah minggu di GMIM Kristus Manado. Lulus SMA ia melanjutkan kuliah di Bandung.

Bersama beberapa teman kuliah, ia di bimbing oleh seorang mahasiswa ITB,Johny Wowor dalam kelompok kecil dengan metode Navigator. Hidup adalah perjalanan dalam memilih. Salah satu pilihan terbaik dalam kehidupan adalah sewaktu ia memilih untuk belajar Alkitab Intensif daripada menikmati liburan. Ketika banyak mahasiswa di Bandung menikmati liburan, dia memilih untuk hanya belajar Alkitab dengan tekun. Pada masa liburan kuliah itu, ia belajar Eksposisi Alkitab khusus kitab Roma sambil belajar Bahasa Inggris setiap hari selama sebulan penuh dengan Misionaris dari Australia Shirley Benn,OMF yang melayani di GKI Jabar Juanda/Maulana Yusuf. Oleh Anugerah Tuhan menjelang akhir pelajaran Alkitab tersebut ada tawaran untuk ujian bea siswa dari Politeknik ITB dan diuji dalam bahasa Inggris lisan dan tulisan. Akhirnya dia berhasil mendapat bea siswa penuh untuk melanjutkan kuliah di Prancis.

Selama kuliah di Prancis, bersama teman-teman Kristen asal Indonesia mereka mendirikan Persekutuan Nancy yang bergabung dengan Persekutuan Eropa yang mendapat bimbingan kerohanian oleh berbagai hamba Tuhan asal Indonesia yang datang secara rutin untuk mengajar dalam pesekutuan dan dalam ret-ret salah satunya adalah Daniel Alexander, Bambang Budijanto. Kebiasaan untuk mengambil pilihan untuk mengisi liburan dengan hal rohani membuat dia selalu memprioritaskan memilih ikut Ret-ret Persekutuan Eropa di Delft Belanda, Aachen dan Kohln Jerman pada masa liburan. Saat bergabung dengan gereja Evangelique di kota Nancy dan juga dalam persekutuan Kharismatik Renouvou Tuhan memberi anugerah pergi melakukan penginjilan jalanan di berbagai kota di Prancis salah satunya adalah Camp dan Festival Musik Kontemporer selama 3 hari di Toulouse dan paling akhir untuk dapat mengikuti Camp Misi Anak Muda selama seminggu di Utrech Belanda bersama 10.000 anak-anak muda dari berbagai bangsa yang komitmen untuk pergi misi ke bangsa-bangsa.

Pulang dari Prancis ia bergabung dengan Gerakan Anak Panah (GAP) bersama Gerrit Hansen dari USA di Bandung sambil menjadi dosen di Politeknik ITB. Sejak saat itu banyak melayani sebagai pengajar dan juga pernah menjadi gembala GAP/GEIS Berkat Bagi Bangsa jemaat Bandung Barat di mana jemaatnya kebanyakan mahasiswa Politeknik ITB dan Universitas Kristen Maranatha. Sebagai gembala dan praktisi misi ia merasa masih perlu banyak belajar sehingga ia ingin belajar sekolah teologia untuk memperlengkapi bidang pelayanan yang ditekuni yaitu bidang misi dan penginjilan serta bidang pastoral konseling. Disertasi terakhir (Ph.D) berjudul, “Restorasi Pelayanan Kesembuhan Yesus kristus bagi Pekabaran Injil Kerajaan Allah.” Sampai hari ini ia masih terus ingin belajar.

Tahun 2002 adalah perjalanan pertama dalam bidang kesembuhan sewaktu ia sembuh dari penyakit yang hampir membuatnya meninggal dan kemudian tertarik untuk mengikuti Seminar Tiga hari dari pelayanan Tantangan Elia (Elijah Challenge)dari USA yang dididirikan oleh William Lau. Sekarang ini pelayanan utamanya adalah mengajar pelatihan Tantangan Elia sebagai koordinator di Indonesia, Direktur Healing Encounter Ministry Indonesia yang berpusat di Malaysia dan membina pelayanan JIMAS di Jawa Barat.

Masa Liburan selalu menjadi pilihannya untuk pergi ke berbagai kota menginjili. Tahun 2013 Tuhan membuka pintu agar ia bersama istri dan anak-anaknya pergi ke berbagai kota dan desa di Sarawak Malaysia untuk menginjili dan menyembuhkan orang-orang sakit selama 40 hari penuh. Jadi pelayanan Pengajaran Tantangan Elia sekarang ini memusatkan pelayanan di berbagai kota dan desa Indonesia dan juga di Sabah dan Sarawak. Tahun 2018 Tuhan membukakan pintu untuk mulai ikut membantu Pelayanan PESAT di Palembang dengan fokus penginjilan dengan kuasa.