DASAR ALKITABIAH UNTUK PENYEMBUHAN

Matius 8:16 dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. 17 Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”

Yesaya 53:4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. 5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. 6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Menurut Matius dan Yesaya, rekonsiliasi dari dosa termasuk penyembuhan jasmani, karena penyebab utama penyakit adalah dosa. Ketika dosa diampuni, penyakit disembuhkan. Dan ketika pesan rekonsiliasi ini diberitakan kepada mereka yang terhilang, kesembuhan jasmani akan menyertainya.

Yesus menyembuhkan dengan menggunakan KUASA

Markus 1:23 Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak… 25 Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!” 26 Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya…

Roh-roh jahat tunduk kepada perintah Yesus karena mereka berada di bawah otoritas dari Yesus sebagai seorang yang memiliki otoritas tinggi yang diberikan dari Allah Bapa. Setiap otoritas yang di bawah tunduk akan atasan. Kecuali mereka tidak diperintahkan mereka tetap bertahan di satu tempat. Roh-roh jahat adalah roh yang tidak memiliki tubuh sehingga mereka dapat menetap pada tubuh makluk-makluk termasuk manusia. Tapi Tuhan Yesus datang memerintahkan mereka keluar dengan kuasa otoritas-Nya. Kita juga telah diberikan otoritas dari Allah Bapa sehingga memiliki otoritas atas iblis-iblis.

Tuhan Yesus memiliki belas kasihan dan mau menyembuhkan orang sakit.

40 Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapanNya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” 41 Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, Ialu la mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” 42 Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.

Beberapa orang meragukan apakah Tuhan Yesus sayang pada mereka seperti Dia sayang pada orang lain. Mereka juga ragu apakah Tuhan mau menyembuhkan mereka seperti halnya orang lain mendapat kesembuhan. Ayat-ayat di atas memberi contoh bagaimana Yesus sangat berbelas kasihan kepada orang yang sakit seperti orang Kusta itu. Ia bahkan menjamah dan menyembuhkan orang sakit itu. Pertama kali orang kusta ini ragu apakah Tuhan mau. Tuhan selalu mau menyembuhkan mereka yang berharap dan meminta kepada-Nya.

Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit demam dengan memerintahkan deman itu pergi

Lukas 4:38 Kemudian la meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. 39 Maka la berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. (dari Matius 8:15 “Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. la pun bangunlah dan melayani Dia.”)

“Roh jahat dan penyakit diusir dengan tegas oleh Yesus. Yesus tidak memohon kepada Bapa untuk menyembuhkan tapi Ia memerintahkan. Kesembuhan penyakit secara Alkitabiah dilakukan bukan dengan meminta Tuhan menyembuhkan tapi melalu suatu perintah kepada roh yang menyebabkan penyakit atau langsung menghardik penyakit tersebut”

Yesus tidak berdoa untuk kesembuhan pria itu, atau meminta roh jahat itu dengan baik- baik agar meninggalkan pria itu. Sebaliknya, dengan cukup ‘kasar’ dan tegas Dia memerintahkan roh jahat itu untuk ‘diam’ dan ‘keluar’. Kita harus belajar menghardik roh jahat dan penyakit dalam cara yang sama -tegas, tanpa basa-basi. Di jamanNya, Yesus memperlakukan penyakit dan roh jahat sebagai hasil kerja Setan, dan tidak ragu lagi Dia membinasakan mereka semua tanpa belas kasihan. Roh jahat takut dan membenci Dia. Dalam cara yang sama, di ayat 40-42, Yesus memerintahkan orang kusta itu untuk ‘tahir’ dan dia pun disembuhkan. Roh jahat dan penyakit juga menciut ketika orang percaya menyebut nama Yesus dengan penuh kuasa. Dari Lukas pasal 4, kita juga melihat Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus dengan berbicara langsung kepada demam itu dan menghardiknya. Matius 8 dan Markus 1 mencatat peristiwa yang sama bahwa Yesus juga memegang tangan wanita itu.

Apakah ORANG PERCAYA punya kuasa seperti Yesus?

Lukas 9:1 Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. 2 Dan la mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang…. 6 Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan lnjil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.

Setelah memberikan murid—murid kuasa atas setan dan penyakit, Yesus mengutus mereka untuk memberitakan lnjil dan mendemonstrasikan kebenarannya dengan menyembuhkan orang sakit, bukan dengan berdoa untuk orang sakit.

Ada perbedaan besar antara kedua hal tersebut. Meminta Tuhan untuk menyembuhkan orang sakit bebas dari risiko; apapun hasilnya bukanlah tanggungjawab kita. Namun sebaliknya, menyembuhkan orang sakit adalah sesuai dengan apa yang Yesus lakukan, Ia memerintahkan sakit penyakit disembuhkan dengan menggunakan kuasa. Ketika kita, sebagai murid Kristus melakukan yang sama, ada kemungkinan terjadi kegagalan: orang sakit itu mungkin tidak sembuh. Karenanya banyak Gereja tidak lagi menaati perintah Tuhan untuk menyembuhkan orang sakit, sebaliknya mereka cenderung ‘mempercayakan pada Tuhan’ dan memintaNya menyembuhkan yang sakit. Alasannya karena mereka takut gagal dan menanggung malu kalau tidak sembuh.

Bagaimana dengan kita para murid yang bukan rasul?

Lukas 10:1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. …9 dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. 17 Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.”

Ketujuh puluh murid itu juga diberikan kuasa yang sama. lni bukanlah ‘karunia untuk menyembuhkan’ yang istimewa, melainkan perlengkapan standar bagi mereka yang ingin mengembangkan Kerajaan Kristus. Perhatikan dalam ayat 9, tampaknya Tuhan memerintahkan untuk menyembuhkan yang sakit terlebih dulu sebelum memproklamasikan KerajaanNya. Ketika Allah memerintahkan kita menyembuhkan yang sakit, artinya itu adalah kehendakNya untuk menyembuhkan.

Ketika KerajaanNya diproklamasikan kepada yang terhilang,  banyak dari mereka yang menuntut untuk melihat demonstrasi kuasa Allah sebelum mereka percaya. Orang Kristen harus dibebaskan dari roh yang takut gagal agar mereka menaati perintah Tuhan untuk menyembuhkan yang sakit dan menyatakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.

Kuasa atas penyakit tidak sama dengan karunia untuk menyembuhkan

1 Korintus 12:4 Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. 7 Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. 9 Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain la memberikan karunia untuk menyembuhkan. 29 Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, 30 atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?

Karunia untuk menyembuhkan diberikan untuk ‘kepentingan bersama’ untuk membangun dan melayani kesembuhan dalam tubuh Kristus. Namun, ketika Kristus masih di bumi, tubuh Kristus belumlah terwujud. Karena itu, apa yang Dia berikan kepada murid-muridNya dalam Lukas 9 dan 10 bukan ‘karunia untuk menyembuhkan,’ namun hanyalah perlengkapan standar bagi mereka yang akan diutus untuk memberitakan lnjil, bukan untuk membangun gereja.

Fakta bahwa kedua belas rasul dan ketujuh puluh murid menerima kuasa yang sama merupakan faktor tambahan yang memperkuat bahwa ini bukanlah karunia untuk menyembuhkan, yang memang tidak diberikan kepada semua orang percaya.  ‘Karunia untuk menyembuhkan’ diberikan pada murid-murid awalnya  dimulai pada hari Pentakosta ketika Roh Kudus dicurahkan. Karena para murid sudah diberikan kuasa atas penyakit dan setan dalam lnjil sebelum Pentakosta, kuasa ini tidak bisa disamakan dengan karunia untuk menyembuhkan.

Penerapan kuasa dapat diterapkan di dalam kumpulan orang percaya

Kuasa untuk mukjizat penyembuhan dalam penginjilan, dalam tingkatan tertentu, juga bisa diaplikasikan dalam pelayanan kesembuhan untuk orang percaya sesuai dengan Yakobus 5:14-16. Prinsip dasar yang sama juga dilibatkan, tapi Tuhan berurusan dengan orang percaya dan dalam cara yang berbeda-beda. Kita akan membahas masalah ini nanti. Faktor lainnya adalah motivasi: untuk meringankan penderitaan orang percaya, atau untuk tanda mujizat yang akan menarik banyak jiwa pada Kristus? Tentu saja, kedua alasan tersebut tidak eksklusif satu sama lain.

Orang percaya tidak butuh mukjizat agar mereka menjadi percaya. Tuhan berurusan dengan mereka dengan maksud yang berbeda-beda tapi tujuan utama supaya mereka menjadi dewasa dalam rohani. Mereka dipersiapkan bukan saja untuk disembuhkan tapi mereka dapat menyembuhkan orang lain dan menyembuhkan diri sendiri. Tuhan melatih iman mereka supaya mereka mempraktekan apa yang diajar oleh Tuhan.

Selain daripada itu beberapa orang percaya yang sakit perlu bertobat dari dosa-dosa yang mereka lakukan saat mereka sedang menanti-nantikan kesembuhan. Mereka perlu bertobat dari dosa-dosa seksual,hidup kompromi dan juga penyembahan berhala termasuk ketamakan, dan berbagai kejahatan lainnya. Salah satu hal penting yang menghalangi terjadinya kesembuhan yaitu hati yang keras karena tidak mau mengampuni orang yang bersalah padanya (Mat 18)

Di dalam pelayanan Yesus dan murid-murid pertama, pelayanan untuk orang sakit (baik orang tidak percaya maupun percaya) dalam konteks memberitakan lnjil bagi yang terhilang adalah ‘berdasarkan pada kuasa.’ Sebaliknya, pelayanan kepada orang percaya yang sakit dalam konteks kehidupan bergereja adalah ‘berdasarkan pada Roh’.

Pelayanan untuk orang percaya yang sakit sangat efektif jika ada keterlibatan berdasarkan pada karunia-karunia Roh seperti yang diajarkan di 1 Korintus 12 dan doa dalam Yakobus 5:14-16. Seringkali karunia untuk menyembuhkan, kata pengetahuan dan karunia hikmat serta karunia untuk membedakan juga ikut digunakan. Mereka yang tidak disembuhkan dalam beberapa tindakan perintah otoritas orang yang melayani mereka, memerlukan konseling  yang dapat ditindaklanjuti pada penerapan pelepasan roh-roh jahat yang mengikat mereka.

Bisa terjadi tumpah tindih antara kedua metode ini.

  • Orang yang melayani dengan kuasa bisa menggunakannya untuk melayani orang percaya yang sakit
  • Orang dengan karunia penyembuhan bisa menggunakannya untuk  memberitakan lnjil
  • Orang-orang  percaya dapat menggunakan kedua metode di atas secara bergantian (lihat kesaksian di bawah ini)

Kesaksian dari Mujizat Kesembuhan di San Francisco

Seorang gembala yang memiliki pelayanan profetik dan kesembuhan Internasional menghadiri kelas Healing Encounter kami. Beliau menulis laporan berikut ini:

“Kamis malam adalah waktu pelayanan bulanan saya di ruang kesembuhan gereja kami. Jadi saya memutuskan untuk menggunakan prinsip yang saya pelajari di kelas Healing Encounter. Orang pertama yang kami doakan menderita sakit punggung selama bertahun-tahun. Rekan tim saya berdoa, yang saya pikir lebih bersifat doa ‘petisi’ meminta Yesus untuk mencabut rasa sakit itu, meminta Yesus untuk mematahkan kutuk turunan, dll. Saya menonton mereka berdoa sebentar, kemudian ketika mereka berhenti sejenak, saya memulai doa ‘yang berkuasa’ (yaitu bicara langsung kepada penyakit dengan kuasa). Begitu saya mulai doa seperti itu, ada hal yang mulai terjadi.”

“Pertama, rasa sakit itu mulai bergerak. Semua kami dalam tim tahu bahwa rasa sakit yang bergerak berarti adanya roh-roh jahat, jadi kami semua mulai memerintahkan roh-roh jahat  itu pergi. Sakit itu mulai di punggung bagian bawah, kemudian naik ke atas dan akhirnya lenyap. Roh sakit penyakit itu tidak punya kesempatan, dengan kami bertiga yang mengusir dan memerintahkannya untuk pergi. Roh-roh jahat  itu telah bersembunyi sepanjang doa petisi tadi dan tidak bermanifestasi sampai kami mulai berdoa dengan kuasa (yaitu, memerintahkannya secara langsung untuk pergi).

Sebaiknya setiap orang yang mau melayani orang sakit siap untuk berperang dan menghancurkan pekerjaan roh-roh jahat yang dapat tampil dipermukaan saat kita menengking penyakit.