“Michelle bilangin kak Pierre pergi jemput Angeline di sekolah”, saya  peintahkan anak ke tiga saya di rumah. “Oke Pa”. Ia yang sedang sibuk menggambar di secarik kertas bangkit berdiri dan pergi ke kamar kakaknya. “Kak Pierre papa suruh kak Pierre jemput Angeline di sekolah sekarang juga,” ia menyuruh kakaknya atas nama saya. Anak saya Pierre tidak menganggap bahwa adiknya yang menyuruhnya pergi, tapi ia mentaati perintah dengan memahami perintah itu atas nama papanya.

Cerita di atas adalah contoh sederhana bagaimana seseorang menyuruh  orang lain dengan menggunakan otoritas yang lebih tingi darpada dia.

Contoh yang lain , seorang sekretaris menulis surat perintah dari direktur perusahaan untuk menugaskan seorang staf perusahaan agar segera berangkat mengurus pertemuan penting ke luar kota. Tuas perjalanan dinas yang diketik oleh sang sekretaris mengatas namakan Direktur dengan bukti tandatangan langsung dari Direktur.

Perintah dari seseorang  dengan menjalankan perintah demi nama orang lain sangat jelas dalam urusan kerajaan, pemerintahan dan militer. Dalam urusan militer, otoritas diberkan dalam perpangkatan dan posisi tertentu. Seorang yang berpangkat tinggi memiliki bawahan yang harus tunduk pada perintah atasannya.  Khusus dalam kepolisian dan militer untuk mendukung perintah yang berotoritas petugas-petugas tertentu diperlengkapi dengan senjata yang dapat  dipergunakan untuk memaksa mereka yang tidak mau taat jadi tunduk. Otoritas merupakan perintah lewat perkataan seseorang sedangkan tenaga adalah senjata yang dipergunakan untuk mendorong dan memaksa mereka yang melawan. Mereka yang bandel ddengan tidak menjalankan perintah yang diberikan selanjutnya akan diberikan disusul dengan dorongan yang menghancurkan dan mematikan mereka.

Tentara-tentara yang dipercayakan beberapa senjata untuk menjalankan otoritas perlu diajar dan dilatih cara yang tepat bagaimana mempergunakan senjata yang mematikan tersebut. Untuk suatu senjata yang penting dan mematikan musuh seorang pelatih  tentara haus dengan hati-hati mengajar tentara baru. Senjata yang dipergunakan dalam peperangan tidak boleh dipakai dengan sembarangan. Seorang yang dipercayakan untuk menjatuhkan bom atom atau melontarkan peluru kendali dari kapal perang pasti diberikan pelatihan penting dalam  masa training  berharga. Jika tidak hasil yang diinginkan tidak maksmimal bahkan akan merusak diri sendiri. Demikian pula pasukan khusus seperti USA special Forces dan Kopasus TNI mereka akan dilatih memakan perlengkapan sejata dalam training khusus dan berbagai latihan perang yang serupa medan perang agar siap menjalankan misi yang berbahaya dan beresiko tinggi di berbagai medan yang berbeda. Medannya dapat berupa hutan, laut, udara, di padang gurun atapun di kutub utara.

Misi memenangkan  jiwa bagi Kerajaan Allah adalah misi dari Allah sendiri  yang turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Selama Yeus hidup Yesus memberikan model pelayanan dengan melatih murid-muridNya selama 3 tahun. Ini harus menjadi model misi paling efektif sepanjang zaman. Tuhan tahu misi ini akan mendatangkan perlawanan dari roh-roh jahat sehingga murid-murid selain diberikan otoritas atas iblis mereka juga diperlengkapi dengan senjata-senjata yaitu tenaga dasyat dari Allah sendiri.

Memang benar bahwa kita adalah tentara Allah yang diutus untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah. Tidak ada tentara yang diutus pergi berperang dengan tangan kosong. Demikian juga setiap orang percaya yang telah diberikan Amanat Agung dijanjikan kuasa sebagai peneguhan misi ilahi tersebut.

Jadi setiap orang percaya perlu merenungkan beberapa pertanyaan berikut.

Renungkan Mat 28:19-20 dan  Mar 16:15-16

Apakah amanat agung itu merupakan perintah wajib bagi setiap orang percaya atau pilihan?